“SYNDROM TETANY” (grass tetany, wheat pasture poisoning, milk tetani dan transit tetani)

BAB I

PENDAHULUAN

 

Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui.

Magnesium merupakan senyawa mineral makro yang mutlak dibutuhkan oleh tubuh, magnesium mengaktivasi banyak system enzim (misalnya alkali fosfatase, leusin minopeptidase) dan merupakan kofaktor yang penting pada fosforilasi oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepekaan syaraf. Magnesium berperan dalam meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi neomuskuler, sehingga pada keadaan defisiensi berat dapat mengakibatkan syndrom tetany dan konvulsi.

Berdasarkan riwayat terjadinya dan umur penderita tetany , tetani dapat diklasifikasikan sebagai grass tetany, wheat pasture poisoning, milk tetani pada pedet dan transit tetani, yang semuanya memiliki keseragaman dalam patofisiologisnya.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai jenis-jenis syndrom tetany disertai dengan keterangan penyebab, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan patologi klinis, prognosa, terapi dan pencegahannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Sindrom tetani yang dikaitkan dengan penurunan kadar magnesium di dalam darah masih belum sepenuhnya diperoleh kejelasan dalam proses patofisiologisnya. Dalam proses terjadinya sindrom tetani diperlukan berbagai faktor, baik yang bekerja secara terpisah maupun yang saling berkaitan. Penurunan kadar magnesium darah banyak dikaitkan dengan rendahnya kandungan mineral tersebut dalam pakan, seperti halnya dalam pakan hijauan muda yang banayak mengandung air (succulent,lish) dan air susu. Kemungkinan sindrom tetany juga disebabkan karena pengaruh metabolisme Mg yang tidak sempurna, hingga hasil akhirnya berupa hipomagnesemia. Kejadian tetani yang ditemukan pada sapi yang bunting atau yang sedang berlaktasi sering dikaitkan dengan terjadinya penyakit difesiensi klasik ,yaitu karena rendahnya masukan dan tingginya keluaran. Derajat sindrom tetani yang nampak juga sering dikaitkan dengan kondisi yang mengakibatkan stres sehingga dimungkinkan terjadi penurunan kadar Mg dipengaruhi oleh sekresi steroid endogenik. Selain ion Mg, kation-kation lain yang berpengaruh pada sambungan neuromuskular, seperti Ca dan K juga terpengaruh oleh steroid endogenik tersebut.

            Berdasarkan riwayat terjadinya dan umur penderita tetani, tetani dapat diklasifikasikan sebagai grass tetani, wheat pasture poisoning, milk tetani pada pedet dan transit tetani, yang semuanya memiliki keseragaman dalam patofisiologisnya. Faktor-faktor rendahnya masukan bahan makanan, menurunnya tingkat mobilisasi sari makanan meningkatnya kecepatan sekresi metabolit, baik secara terpisah maupun gabungan dari faktor-faktor tersebur, pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya hipomagnesemia dan hipokalsemia yang tingkatannya bervariasi.

            Fungsi faal organ-organ tubuh maupun  sistem lainnya terpengaruh oleh menurunnya kadar Mg dalam darah. Fungsi tulang ,proses biokimiawi oleh enzim-enzim maupun hantaran dalam sambungan neuromuskuler akan lansung terpengaruh.dari fusngsi-fungsi tadi fungsi neuromuskuler mengalami gangguan yang paling mencolik. Peranan Mg dalam fungsi neuromuskuler terutama terletak dalam sambungan myoneural (myoneural jungtion), ditempat pembebasan asetilkholin.secara teori kadar Mg dalam darah yang rendah akan menyebabkan peningkatan pembebasan asetilkholin, hingga tranmisi impuls pada  sambungan neuromuskuler meningkat dan terjadinya tetani.

            Meskipun tetani terlihat sebagai suatu gejala klinis ,ada dua hal yang perlu dipikirkan sebelum menarik kesimpulan bahwa tetani yang diamati disebabkan oleh hipomagnesemia. Hal pertama yang perlu diajukan adalah kenyataan bahwa fungsi neuromuscular dapat berlansung bila terdapat kerja sama antara berbagaiion,yang memerlukan faktor-faktor predisposisi seperti yang untuk ion Mg. Ion kalsium yang berpengaruh pada sambungan neuromuskuler menimbulkan efek yang berlawanan dengan kerja ion magnesium. Perbandingan antara kedua ion tersebut di dalam darah, dan lebih-lebih dalam cairan serebri-spinal ,akan menentukan sifat tetani yang dihasilkan. Hal kedua adalah kebiasaan menganalohikan kejadian tetani sapi dengan spesies lainnya .Teori untuk menjelaskan tetani sapi telah diangkat dari teori tetani untuk spesies bukan sapi, berbeda dengan spesies lainnya, kadar magnesium didalam plasma pada spesies sapi lebih tinggi daripada di dalam sel.

 

  1. 1.    GRASS TETANI (Tetani hipomagnesemik, tetani laktasi, grass staggers, pasture tetany)

            Grass tetani sering dikenal pula sebagai tetani hipomagnesemik, tetani laktasi, grass staggres maupun tetani padang rumput (pasture tatani). Nama penyakit tersebut memperlihatkan bahwa penderitanya mengalamin gangguan metabolik pada saaat sedang laktasi dan memperoleh bahan hijauan yang mengandung kadar air tinggi (lush,succulent) yang diperoleh dipadang rumput.

            Grass tetani ditandai dengan eksitasi yang berlebihan yang bersifat neuromuskuler dan timbul secara ,mendadak meskipun kejadiannya yang terbanayak adaalh pada sapi pedaging yang masi menyusui anaknya dan pada sapi perah yang sedang berlaktasi ,kadang-kadang kejadian juga ditemukan pada sapi-sapi yang dikandangkan terus-menerus yang dineri pakan dengan kadar magnesium maupun kandungan energi rendah.Selain sapi sindrom grass tetani juga sering ditemukan pada domba yang sedang bunting  sarat maupun yangb sedang menyusui.

 

1)   PATOGENESIS

Grass Tetani ditemukan pada hewan yang secara mendadak memerlukan mineral magnesium dalam jumlah tinggi,atau pada hewan yang memperoleh pakan yang rendah kandungan magnesiumnyan,atau penderitanya yang mengalami secara serentak kedua faktor yang telah disebutkan.

Rumput muda yang memperoleh cukup air dan pupuk tumbuh dengan cepat di padangana dan biaanaya mengandung kadar magnesium  rendah.Hewan-hewa yang digembalakn dipangonan yang secara masif dipupuk dengan kalium atau nirogen,cenderung mudah menderita grass tetany. Hewan yang bunting atau yang sedang laktasi memerlukan magnesium dalam jumlah yang tinggi. Kadar normal magnesium di dalam serum sapi normal adalah 2-3 mg/dl. Bila kadar mineral tersebut turun sampai kurang dari  mg/dl akan terjadi grass tetany.

Kadang-kadang kadar magnesium dalam serum penderita tidak mengalami perubahan yaitu tetap 2-3 mg/dl. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa kadar Mg di dalam cairan cerebrospinal ternyata lebih pengting daripada kadar di dalam serum. Meskipun kadar magnesium di dalam cairan cerebrospinal berada dalam keseimbangan dengan kadarnya di dalam plasma rupanya keseimbangan tersebut tidak cukuptercapai untuk menghindarkan kekurangan Mg di dalam sambungan neuromuskuler. Kelambatan masuknya ion Mg dari plasma ke dalam cairan serebrospinal juga didukung dengan kenyataan apabila kepada penderita grass tetany diberikan larutan magnesium, respon yang berlangsung relatif lebih lambat, tidak seperti penyubtikan kalsium pada kasus milk fever. Faktor lain yang juga berpengaruh dalam transfer ion magnesium adalah kadar kalsium di dalam seerum. Pada seekor penderita mungkin terjadi milk fever dan grass tetany secara bersamaan. Kadang-kadang gejala tetany neuromuskuler ditemukan pada sapi pedaging yang kadar kalsiumnya sangat rendah, hingga pengobatan dengan magnesium saja tidak akan mampu memperbaiki kondisi sapi yang demikian.

 

2)   GEJALA – GEJALA

Penderita grass tetany memperlihatkan gejala tidak tenang, tampak selalu curiga, dan otot-otot perifer meningkat tonusnya, kaku yang me ngarah kepada kekejangan. Kadang-kadanng penderita bersifat beringas dan bahkan tampak liar. Penderita yang tidak mampu bangun dan masih kelihatan normal ekspresi mukanya, pada waktu mendapatkan rangsangan, misalnya karena didekati atau  karena diikat, segera terjadi gejala klinis yang lebih berat, yang ditunjukkan dengan usaha bangun atau menghindar secara tidak terkoordinasi sampai timbulnya kejang neuromuskuler.

Oleh karena meningkatnya kerja otot akan terjadi kenaikan suhu tubuh sampai 400-42oC. Pulsus dan respirasi juga mengalami kenaikan konpensatorik. Kenaikan tonus otot polos dapat menyebabkan diare maupun peningkatan frekuensi urinasi. Penderita yang ambruk sternal (lateral recumbency) dapat diikuti opisthotonus dan gerak mengayuh dari kaki. Rangsangan yang berlangsung terus-menerus hingga terjadi kejang oto yang berlangsung lama menyebabkan kelelahan dan akhirnya kematian. Penderita yang memperlihatkan gejala klinis berat biasanya mengalami kematian, sedangkan yang ringan mungkin dapat sembuh secara spontan.

 

3)   PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIS

Kadar magnesium kurang dari 1 mg/dl, kalsium kurang dari 7 mg/dl, dan kalium yang tinggi di dalam serum paling banyak ditemukan dalam pemeriksaan darah penderita. Seringkali terjadi hasil laboratorium tidak mendukung sepenuhnya, meskipun gejala klinis dan riwayat kejadian penyakit cukup beralasan untuk menegakkan diagnosis grass tetany. Dalam hal demikian rupanya kadar magnesium dan kalsium di dalam cairan cerebrospinal lebih memiliki arti penting daripada di dalam serum dalam menghasilkan gejala klinis. Meskipun demikian pemeriksaan darah tetap memiliki arti penting terutama bila grass tetany terjadi berulang kali dalam satu kelompok sapi.

Dalam pemeriksaan patologi anatomi grass tetani yang murni tidak ditemukan lesi jaringan yang tersifat dalam bedah bangkai. Karena gerak yang tidak terkendali waktu sakit dan sebelumpenderita mati dapat terjadi luka abrasi pada kulit. Komplikasi yang sering ditemukan berupa kembung rumen  pnemonia aspirasi.

 

4)   DIAGNOSA

Diagnosa di lapangan banyak didasarkan atas gejala hiperestesi sampai tetani, dan pada riwayat dalam pemberian pakan. Hasil pemeriksaan laboratorik terhadap serum mungkin dapat membantu dalam peneguhan diagnosis. Sebagai diagnosis banding perlu dipertimbangkan paresis puerperalis, keracunan Pb, rabies, meningitis septis, dan ketosis bentuk syarafi. Untuk menentukannya diperlukan anamnesi yang lengkap, penelusuran atas kejadian penyakit, dan hasil pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan laboratori yang khusus untuk penyakit-penyakit yang telah disebutkan. Hasil pengobatan dengan larutan magnesium dapat pula digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis.

 

5)   PROGNOSIS

Prognosis ditentukan oleh lemahnya proses tetany, derajat gejala klinis yang terlihat, dan lamanya penderita mengalami kekurangan magnesium. Juga kecepatan pemberian obat yang mengandung magnesium serta reaksi yang ditimbulkan oleh pendertia dapat digunakan untuk membantu dalam menentukan prognosis.

 

6)   TERAPI

Pengobatan ditujukan untuk memperbaiki ketimpangan ion-ion yang menyebabkan gejala hiperestesi, serta menambahkan mineral magnesium ke dalam ransum penderita. Banyak larutan garam yang mengandung kalsium, magnesium dan pospor yang dipersiapkan untuk pengobatan grass tetany. Untuk mengembalikan magnesium darah ke kadar normlanya dapat digunakan larutan MgSO4 20% dengan dosis 0, 44 mg/kg, disuntikkan secara intravena atau subkutan. Larutan magnesium laktat 3,3 % dengan dosis 2,2 mg/kg dan magnesium glukonat 15% dengan dosis 4,4 ml/kb yang disuntikkan, dapatmenghasilkan kadar magnesium plasma 2-3 mg/dl dengan efek yang lebih lama. Larutan enemaMgCl2.6H2O sebanyak 60 gr yang dilarutkan ke dalam 200 ml air dapat menaikkan kadar magnesium darah dalam waktu 20 menit.

Efek pengobatan biasanya terjadi dalam waktu 1 jam dalam bentuk menurunnya hiperestesi, penderita jadi lebih tenang dan kembalinya fungsi neuromuskuler secra normal. Efek samping dapat terjadi bila pemberian larutan magnesium diberiukan secara intravena dengan cepat yang berupa meningkatnya debar jantung (bradikardi) dan debar jantung yang tidak teratur. Penyuntikan intravena larutan magnesium secar lambat yang diberikan bersama larutan kalsium dapat mengurangi efek samping terhadap jantung. Efek magnesium terhadap pusat syaraf hingga terjadi anasthesi juga akan berkurang bila dibarengi dengan pemberian larutan kalsium.

Koreksi mineral secara oral dapat dilakukan dengan senyawa MgO , dengan dosis 1g/45kg pakan dicampur tetes atau suplemen protein kadang kadang senyawa MgO atau senyawa magnesium lainnya diberikan secara top dressing kepada pakan,atau langsung diseprotkan dalam bentuk larutan di padang  rumput.

 

7)   PENCEGAHAN

Pencegahan dilakukan dengan cara pengembalaan yang tercana atau secara rotasi, hingga sapi tidak memperoleh tanaman muda yang mengandung air secara berlebihan bila perlu suplementasi dengan senyawa magnesium diberikan secra langsung di padang rumput. Garam blok yang mengandung garam dapur tetes yang dikeringkan, MgO dan tyepung biji kapas dengan perbandingan 1:1:1:4  yang diberika  secara ad libitum telah digunakan secara efektif untuk mencegah grass tetani. Senyawa MgCl2 yang diberikan bersama tetes yang mengndung urea juga dianjurkan diberikan ke dalam pakan di padang gembala.

 

  1. 2.    MILK TETANY

Milk tetani merupakan bentuk tetani hipomagnesemik pada pedet berumur 2-4 bulan (veal) yang diberi air susu secara teru menerus sebagai makanan utama. Pada umur tersebut pedet bertumbuh dengan cepat sedangkan magnesium yang tersedia dan dapat diserap yang berasal dari air susu jumlahnya sangat sedikit. Pedet sering juga menderita gejala tetani setelah mengelami gangguan pencernaan makanan baik berupa radang usus infeksi maupun karena parasitisme yang berlangsung kronik penyakit juga dapat ditemukan pada pedet yang memperoleh makanan pengganti susu (milk replacer) yang kualitasnya jelek.

 

1)      GEJALA

Pedet penderita memperlihatkan gejala hipersetesi , gelisah,tidak mampu  bangun dan kemudian mati setelah terjadi kekejangan. Kemtian terjadi dalam waktu 1 sd 2 jam setelah menderita kekejangan ynag berlangsung terus menerus kadang kadang gejal klinis diamati beruilangkali, dan pada saat saat tertentu penderita tampak sembuh. Dalam pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi detak jantung yang sanagt cepat,lebih kurang 200 kali per menit,dan kualitas pulsus yang sangat lemah. Biasanya beberapa pedet yang seumur menjadi sakit secra serentak.

 

2)      PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIS

Kadar magnesium dalam serum mengalami penurunan secara tajam (0,3 sd 0,7 mg/dl). Seperti halnya grass tetany (hipomagnesemia) pada pedet mungkin ditemukan brsamaan denag hipo calcemia.

 

3)      DIAGNOSIS

Ditentukan berdasarkan riwayat dan hasil pemeriksaan klinis ,yang mungkin diteguhkan denga  pemeriksaan patologi klinis. Penyakit lain yang perlu dipertimbangkan meliputi robenya abomasum, tetanu, meningitis, setelah pemotongan tanduk, keracunan Pb akut, encephalitis, avitaminosis A dan invaginasi usus cystic untuk memebedakan perlui diamati ggejal klinis ,hasil pemeriksaan  laboratory dan yang menentukan adalah hasil pemeriksaan patologi anatomi dari penderita.

 

4)      TERAPI

Penyuntikan subcutan dengan larutan garam magnesium biasanya memeberikan hasil memuaskan. Larutan MgSO4 10% sebanyak 100ml , disuntikkan subcutan, juga memeberikan hasil baik. Secara oral dimasukkan kedalam makanan pedet perlu ditambahkan MgO 10gr /hari dialkukan sampai dengan gejala klinis tidak diamati lagi.

 

5)      PENCEGAHAN

Untuk menghindari kejadian milk tetani kepada pedet perlu diberi kesemapatan untuk secara dini memperoleh pakan hijauan atau kedalam pakan pedet diberi suplementasi mineral. Pedet untuk veal perlu diberi MgO sebanyak 1gr per hari sejak umur 7 hari saat dipotong.

 

 

 

  1. 3.  WHEAT PASTURE POISONING

Merupakan bentuk tetani  hipomagnesemik  pada sapi dewasa setelah digembalakan di padangan yang ditanami bangsa gandum(oat) dan barley. Tanaman muda yang sedang tumbuh tersebut kandungan mineral magnesiumnya tidak cukup, hingga bila tidak diberikan penambahan dari luar akan dapat mnyebabkan hipomagnesemia.

1)      GEJALA

Gejala klinis yang ditimbulkan maupun terapi yang dianjurkansama sepertio pada grass tetani . penentuan diagnosis didasarkan pada gejala klinis maupun riwayat pemberian pakan.sebagai diagnosis banding tambahan perlu dipertimbangkan keracunan nitrit maupun asidosis rumen.

2)      PENCEGAHAN

Hewan hewan perlu dihindarkan dari padang gembala yang ditanami tanaman tersebut diatas pada umur tanam,an yang masih sangat muda.

 

  1. 4.        TETANY TRANSPORT

Merupakan bentuk lain dari hipomagnesemik. Sebelum terjadi gejala tetani penyakit didahuli oleh suatu stres, dan yang teranyak berupa stres pengangkutan. Keadaan lain yang mengakibatkan tetani bentuk ini juga meliputi perubahan  cuaca yang mendadak , perubahan pakan,vaksinasi,atau tindakan preventif lain, misalnya pencegahan pengobatan cacingan. Kejadian penyakit dapat pula terjadi pada domaba yang bunting atau menyusui ,sapi perah maupun pedaging,dan pejantan yang diangkut dari padangan atau kandang ke tempat yang jauh

1)      GEJALA

Gejala klinis tampak 3- 4 hari setelah penderita mengalami stress, meskipun dapat pila terjadi langsung setelah pengangkutan berakhir karena kunga minum selama pengangkutan makanan tertimbun di dalam rumen (rumenostasia0. Gejala awal meliputi kekelisahn, anoreksia, dan eksitas, selanjutnya otot-otot yang besar gemetar(tremor), gigi gemeretak, jalan sempoyongan dan inkoordinasi, dan akhirnya tidak mampu bangun. Sebelum mati akan tampak gerak mengayuh dari kaki, opistotonus dan koma. Suhu yang pada awalnya meningkat karena kerja otot yang berlebihan, segera turun menjadi subnormal, sesuai dengan menurunnya fungsi faal neuromuskuler. Pulsus dan respirasi juga meningkat sesuai dengan meningkatnya kerja otot-otot perifer.

Penderita yang sedang bunting dapat mengalami keguguran, dan yang sedang berlaktasi jumlah air susu yang dihasilkan sangat merosot, atau terhenti sama sekali.

 

2)      PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIS

Ion-ion kalsium, magnesium dan potassium akan mengalami perubahan sejalan dengan gejala klinis yang diakibatkannya.

 

3)      TERAPI

Penyuntikan dengan sediaan yang mengandung Mg ++ dan Ca ++ dan K+, dan glukosa sangat dianjurkan meskipun hasilnya tidak selalu memuaskan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan secara intravena. Dan bila tidak mungkin baru dilakukan secara subcutan atau intraperitonial.

 

4)      PENCEGAHAN

Usaha ditujukan untuk mengurangi atau meniadakan efek stress. Perhatian khusus lebih-lebih sangat perlu dalam mengngkut hewan bunting maupun menyusui. Dalam pengngkutan pakan tidak boleh diberikan berlebihan ,dan sebaiknya diberikan kosnsentrat saja selam dan setelah transport air minum harus cukup disediakan setelah pengngkutan hewan perlu diberi istirahat yang cukup begitu pula pengaturan pakan perlu diperthatikan, dan perubahan pakan perlu dilakukan sedikit demi sedikit.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Sindrom tetani berdasarkan riwayat terjadinya dan umur penderita, dapat diklasifikasikan sebagai grass tetany, wheat pasture poisoning, milk tetani dan transit tetani, yang semuanya memiliki keseragaman dalam patofisiologisnya, yaitu terjadinya penurunan kadar kalsium di dalam darah.

Penurunan kadar magnesium darah banyak dikaitkan dengan rendahnya kandungan Mg dalam pakan, pengaruh metabolisme Mg yang tidak sempurna, rendahnya masukan dan tingginya keluaran Mg pada sapi laktasi dan kondisi stress sehingga dimungkinkan terjadi penurunan kadar Mg yang dipengaruhi oleh sekresi steroid endogenik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bill Kvasnicka, Les J. Krysl, State Livestock Specialist . Grass Tetany in Beef Cattle. University of Nevada

 

Candice M. Klingerman Ruminant Nutrition & Microbiology Lab. 2007. Grass Tetany in Cattle – An Examination of its Causes, Clinical Signs and Cures.university of Delaware.

 

Chris Allison. 2008. Controlling Grass Tetany in Livestock. College of Agriculture and Home Economics. New Mexico state University.

 

Subronto. 2007. Ilmu Penyakit Ternak. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta,

 

 

2 thoughts on ““SYNDROM TETANY” (grass tetany, wheat pasture poisoning, milk tetani dan transit tetani)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s