Antrax

Anthrax adalah penyakit menular terutama menyerang binatang herbivora, tetapi juga menyerang semua mamalia termasuk manusia dan beberapa spesies unggas. Manusia juga rentan terhadap infeksi, meskipun tidak serentan hewan pemamah biak. Anthrax merupakan salah satu zoonosis yang penting dan sering menyebabkan kematian pada manusia. Penyakit Anthrax tidak hanya penting pada industri peternakan, tetapi juga penting dalam populasi kehidupan binatang liar dan manusia, terutama mereka yang tertular melalui pekerjaan.
Penyakit Anthrax dilaporkan bersifat perakut, subakut dan jarang dalam bentuk kronis. Penyakit ini biasanya bersifat akut atau perakut pada pelbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai dengan demam tinggi dan disebabkan oleh Baccillus anthracis. Biasanya ditandai dengan perubahan-perubahan jaringan bersifat septisemi, timbulnya infiltrasi serohemoragi pada jaringan subkutan dan subserosa, dan pembengkakan akut limpa. Pelbagai jenis hewan liar ( rusa, kelinci, babi hutan dan sebagainya ) dapat pula terserang.
Di Indonesia Anthrax menyebabkan banyak kematian pada ternak, kehilangan tenaga kerja di sawah dan tenaga tarik, serta kehilangan daging dan kulit karena ternak tidak boleh dipotong. Kerugian ditaksir sebesar dua milyar rupiah setiap tahun.
Gejala klinis ante-mortem pada bentuk perakut dan akut mungkin tidak terlihat. Penyakit bentuk subakut bisa diikuti oleh demam progresif, nafsu makan hilang, depresi, lemah, dan kematian. Pada penyakit bentuk kronis bisa terlihat pembengkakan lokal, demam, pembengkakan limpoglandula, kematian bisa terjadi apabila jalan udara telah tersumbat.
Uji post-mortem pada hewan yang baru mati harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari infeksi pada operator dan kontaminasi lingkungan (bisa terlihat beberapa lesi yang tidak pathogenis). Lesi-lesi umum terlihat pada binatang septicemia umum yang sering diikuti dengan pembesaran limpa yang disertai konsistensi ÇÃlackberry jam¡¦dengan sedikit gumpalan darah. Hemoragi dari hidung, mulut dan/atau anus pada waktu kematian merupakan tanda umum.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit ANTHRAX

Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Hewan tertular akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar. Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.
Dasar kelainan : Nekrosis lokal akibat toksin atau bakteriemia
I. Diagnosis
Masa inkubasi : 2 -5 hari.
A. Keluhan pokok
Keluhan umum :
1. Demam
2. Sefalgi
3. Malese
4. Mual muntah
Tergantung dari lokasinya :
1. Kulit (Antrhrax Cutaneus)
– Pruritus
– Papul yang tidak sakit
2. Paru (Antrhax paru “woolsorter’s disease”)
– Sesak
– Batuk-batuk
– Tersumbat di hidung, kerongkongan dan larings.
3. Gastrointestinal
– Mual muntah
– Nyeri abdomen
– Diare bercampur darah
B. Tanda Utama
1. Lesi vesikel dengan nekrosis hitam pada bagian tengah, dikelilingi cincin eritema dan edema.
2. Kongesti jaringan mukosa
3. Tanda lain sesuai lokasi infeksi
C. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Sputum
2. Kultur dari jaringan nekrosis lalu diwarnai Gram atau flouresen
D. Pemeriksaan khusus : –
II. Komplikasi
1. Sepsis
2. Meningitis
3. Endokarditis
III. Panatalaksanaan
a. Terapi Umum
1. Istirahat
2. Diet
3. Medikamentosa
– Obat Pertama :
1. Penisilin G 2 juta unit/6 jam hingga tanda-tanda edema hilang
2. lalu dengan pemberian peroral selama 7 – 10 hari.
3. Eritromisin/tetrasiklin 4 x 500 mg bila alergi pinisilin.
– Obat alternatif : –
b. Terapi komplikasi : –
IV. Prognosis
Mortalitas :
1. Antrax Cutaneus : 10 – 20%
2. Antrax paru : 100%
3. Antrax gastrointestinal : 50%
Bila terapi cepat dan tepat mortalitas dapat diturunkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s