Epidemiologi Brucellosis

Brucellosis atau penyakit keluron menular merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis karena penularannya yang relative cepat antar daerah dan lintas batas serta memerlukan pengaturan lalulintas ternak yang ketat (DITJENNAK, 1988). Brucellosis mengakibatkan tingginya angka keguguran pada sapi, pedet lahir mati/ lemah, infertilitas, sterilitas dan turunnya produksi susu. Ada 5 jenis dari genus Brucella yang potensial menimbulkan penyakit pada hewan dan manusia yaitu Br.abortus pada sapi, Br.suis pada babi, Br.canis pada anjing, Br.ovis pada domba jantan dan Br.melitensis pada kambing dan domba. Namun di Indonesia kasus yang sering terjadi adalah B. abortus pada sapi. Secara morfologi kuman B. abortus bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak berspora, berbentuk cocoobacillus dengan panjang 0,6 μm – 1,5μm. Sel kuman terlihat sendiri-sendiri, berpasangan atau membentuk rantai pendek. Koloni kuman berbentuk bulat, halus, permukaan cembung dan licin berkilau dan tembus cahaya (Noor, 2009). Brucellosis pada sapi bersifat kronis dengan fase bakterimia yang subklinis. Sumber penularan brucellosis pada sapi yang utama berasal cairan plesenta dan sisa-sisa abortusan. Predeleksi bakteri tersebut terutama pada uterus sapi betina. Penularan penyakit biasanya terjadi melalui makanan atau saluran pencernaan, selaput lendir mata, kulit yang luka, ambing, inseminasi buatan dengan semen yang tercemar dan plasenta. Sapi dewasa dan terutama sapi yang sedang bunting sangat peka terhadap infeksi B. abortus, sedangkan pada dara dan sapi tidak bunting banyak yang resisten terhadap infeksi. Penularan melalui inhalasi juga dilaporkan terutama ketika ternak sehat dan ternak yang mengalami abortus ditempatkan dalam satu kandang yang padat dengan sanitasi buruk (Noor, 2009). Orang-orang yang berprofesi tertentu misalnya dokter hewan, inseminator, mantri hewan, petugas rumah pemotongan hewan, tukang perah susu mempunyai resiko tinggi tertular brucellosis jika mereka bekerja di daerah tertular. Brucella sp. dapat menembus kulit, konjungtiva dan saluran pencernaan. Penularan pada petugas laboratorium dapat juga terjadi (Noor, 2009). Masa inkubasi kuman setelah infeksi pada sapi bervariasi dari 15 hari sampai beberapa bulan tergantung pada jumlah dan tingkat keganasan (virulensi kuman), kondisi hewan (sedang bunting atau pernah mendapat infeksi atau vaksinasi) serta faktor predisposisi lainnya. Brucellosis pada sapi betina dapat mengakibatkan gangguan reproduksi dan keguguran pada kebuntingan 5-7 bulan mencapai 5%-90%, dimana adanya keguguran merupakan gejala patognomonis pada infeksi awal. Setelah mengalami abortus biasanya infeksi akan menjadi kronis dan tidak menunjukkan gejala klinis serta sapi dapat bunting kembali sehingga hewan dapat bertindak sebagai carrier penularan ke ternak sehat lainnya melalui plasenta dari janin yang gugur, kotoran sapi, serta air, pakan dan peralatan kandang yang terinfeksi. Pada sapi jantan brucellosis dapat menyebabkan orchitis, epididimitis dan arthritis (Noor, 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s