AVIAN INFLUENZA “FLU BURUNG”

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Flu Burung ( Avian Influenza/ AI) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomis dan juga dapat berdampak terhadap kehilangan nyawa pada manusia, sehingga penyakit flu burung dikelompokkan pada penyakit kategori I,  yaitu penyakit strategis.

Penyakit Avian Influenza  adalah penyakit yang sudah  lama terkenal di seluruh dunia, penyakit ini dapat menyebabkan banyak kematian unggas di suatu daerah sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi peternak. Selain itu Avian Influenza merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia ( zoonosis ) sehingga pencegahan dan penganggulangan terjadinya penyakit ini perlu mendapat perhatian dan tindakan yang tepat.

.Suatu jenis influenza unggas baru, yang dikenal sebagai influenza A H5N1, pertama kali diperhatikan di Hong Kong pada tahun 1997. Jenis ini muncul pada akhir tahun 2003, dan merebak dengan cepat ke beberapa negara Asia dan mengakibatkan infeksi yang parah pada banyak unggas domestik.

1.2  Tujuan Penulisan

Sesuai dengan judul yang diangkat, maka tujuan penulisan dari makalah  ini adalah :

  1. Memberikan pengetahuan tentang penyakit AI
  2. Mengetahui bahwa penyakit AI bersifat zoonosis.
  3. 3.      Mengetahui peran dokter hewan serta peran  masyarakat dalam pencegahan, pengendalian, pengobatan dan pemberantasan penyakit AI.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.  VIRUS PENYEBAB

Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A . Virus influenza termasuk famili Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Virus influenza tipe A terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N), kedua huruf  ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N9.

Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati pada pemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine.

 

2.2 HOSPES ALAMI

Burung-burung air yang liar, terutama yang termasuk dalam orde Anseriformis (bebek dan angsa) dan Charadiformis (burung camar dan burung-burung pantai), adalah pembawa (carrier) seluruh varietas subtipe dari virus influenza A, dan oleh karenanya, sangat mungkin merupakan  penampung (reservoir) alami untuk semua jenis virus influenza. Sementara semua spesies burung dianggap sebagai rentan terinfeksi, beberapa spesies unggas domestik – ayam, kalkun, balam, puyuh dan merak – diketahui terutama rentan terhadap sekuele (lanjutan) dari infeksi virus influenza. Virus-virus influenza A unggas biasanya tidak menimbulkan penyakit pada penjamu alami mereka. Sebaliknya, virus-virus tersebut tetap dalam suatu keadaan stasis yang evolusioner, yang secara molekuler ditandai dengan rendahnya rasio mutasi N/S (non synonymous vs. synonymous) yang menunjukkan adanya evolusi pemurnian Antara penjamu dengan virus agaknya terjadi saling 1992,

Jika virus tersebut menular ke spesies unggas yang rentan, dapat timbul gejala-gejala sakit yang – kalau ada — biasanya bersifat ringan. Virus dari fenotipe seperti ini disebut sebagai berpatogenisitas rendah (LPAIV) dan, pada umumnya, hanya mengakibatkan terjadinya penurunan produksi telur yang bersifat ringan dan sementara dalam unggas petelur, atau menurunkan penambahan berat badan dalam unggas pedaging. Tetapi strain-strain dari subtipe H5 dan H7 berpotensi untuk mengalami mutasi menjadi bentuk yang sangat patogen setelah mengalami perpindahan dan adaptasi terhadap penjamu yang baru. Kelahiran bentuk yang sangat patogen dari H5 dan H7 atau subtipe yang lain tidak pernah dijumpai dalam unggas liar.

Kerentanan burung liar terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh H5N1 sangat bervariasi tergantung kepada spesies dan umur unggas, serta strain virusnya. Sampai pada munculnya virus ganas (HPAIV) garis H5N1 di Asia, limpahan dari HPAIV ke populasi burung liar hanya terjadi secara sporadik dan terbatas pada suatu daerah saja sehingga sebegitu jauh unggas liar secara epidemiologik tidak dianggap mempunyai peranan penting dalam penyebaran H5N1.

 

2.3 GEJALA KLINIS

Gejala flu burung dapat dibedakan pada unggas dan manusia.

a. Gejala pada unggas

– Jengger berwarna biru

– Gangguan pernapasan berupa batuk, bersin, penurunan napsu makan

– Menjulurkan leher, hiperlakrimasi (leleran mata berlebih), bulu kusam

– Borok dikaki, Terlihat pembengkakan (edema) pada muka dan kaki, terlihat kaki kemerahan, seperti bekas kerokan

– Kematian mendadak

b. Gejala pada manusia.

– Demam (suhu badan diatas 38o C)

– Radang saluran pernapasan atas, batuk dan nyeri tenggorokan

– Pneumonia

– Infeksi mata

– Nyeri otot

2.4 MASA INKUBASI

Pada ayam, masa inkubasi virus, yaitu saat virus masuk ke tubuh sampai timbul gejala membutuhkan beberapa jam sampai dengan 3 hari dalam satu individu dan 14 hari dalam satu flok. Hal ini tergantung pada barbagai faktor , antara lain ; jumlah dan patogenitas virus yang menginfeksi, jenis spesies yang terinfeksi, kemampuan deteksi gejala klinis.

Pada manusia, inkubasi virus membutuhkan 1- 3 hari, tergantung umur, kekebalan dan kondisi individu. Pada umumnya kasus terjadi pada anak-anak karena sistim kekebalan pada anak belum berkembang sempurna.

 

2.5 PATOGENESIS

Terdapat dua faktor yang menentukan tingkat pathogen virus AI, yaitu :

(1) Protein hemaglutinin (HA), yang terdapat pada permukaan virus. Adanya “cleavage site” pada protein HA akan meningkatkan sifat pathogen virus AI. Protein HA juga berperan dalam proses infeksi virus ke dalam sel dengan cara berinteraksi secara langsung dengan reseptor di permukaan sel hospes. Selain itu protein HA juga berfungsi dalam perpindahan virus dari satu sel ke sel lain. Melalui cara akumulasi mutasi pada HA, maka virus AI bisa meningkat daya penularannya.

(2) Gen Nonstruktural Protein (gen NS). Keberadaan gen NS akan menciptakan virus yang kebal terhadap dua faktor yang berkaitan dengan sistem imun tubuh, yaitu interferon (IFN) dan “tumor necrosis factor alpha (TNF-α), yang memiliki peran anti virus. Hasil uji coba menunjukkan bahwa bahwa virus rekombinan yang memiliki NS yang berasal dari virus pathogen, seperti H1N1 berhasil menghambat ekspresi gen yang diregulasi oleh interferon.

2.6 CARA PENULARAN

  Virus AI dikeluarkan oleh unggas penderita lewat cairan hidung, mata dan feses. Unggas peka akan tertular bisa secara kontak langsung dengan ungga s penderita maupun secara tidak langsung melalui udara yang tercemar oleh droplet yang dikeluarkan hidung dan mata atau muntahan penderita. Tinja yang mongering dan hancur menjadi serbuk yang mencemari udara yang terhirup oleh manusia atau hewan lain,kemungkinan juga merupakan cara penularan yang efektif. Tinja, dan muntahan penderita yang mengandung virus seringkali mencemari pakan, air minum, kandang dan peralatan kandang akan menularkan penyakit dari unggas penderita ke unggas pekadalam satu flok kandang. Penularan virus dari peternakan satu ke peternakan lain bisa melalui perantara, antara lain : manusia, pakaian, sepatu, kendaraan dan burung liar. Tidak ada indikasi penularan AI secara vertikal, dari induk kepada keturunannya. Virus bisa terkandung dalam telur dari ayam induk pembibit yang terinfeksi, namun embrio akan mati sebelum menetas. Belum ada indikasi pula virus AI menular darimanusia ke manusia, tetapi tetap harus waspada, karena bisa terjadi perubahan sifat virus secara “antigenic drift” dalam tubuh babi sebagai “mixing vessel”, sehingga virus H5N1 bisa menginfeksi manusia maupun burung.

Kasus manusia terinfeksi AI cukup kecil, hanya terbatas pada orang-orang yang bersinggungan langsung dengan unggas penderita. Kelompok rawan terinfeksi, antara lain : pekerja di peternakan ayam atau unggas domestik lain, Rumah Potong Ayam (RPA), pengangkut (sopir) distribusi ayam.Tidak ada bukti manusia tertular oleh virus AI karena makan daging atau telur ayam yang telah dimasak, karena virus mati pada pemanasan jauh di bawah suhu mendidih. Sehingga tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan telur ayam perlu disosialisasikan secara besar-besaran oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, semua pihak terkait kepada masyarakat luas, karena sumber pangan protein hewani yang bisa mencerdaskan kehidupan bangsa dan terjangkau harganya oleh masyarakat adalah produk unggas.

2.7 EPIDEMIOLOGI

Unggas ternak

Sampai akhir tahun 2003, H5N1 dianggap sebagai penyakit yang jarang terjadi pada

unggas ternak. Sejak 1959, hanya ada 24 wabah primer di seluruh dunia yang pernah dilaporkan. Sebagian besar terjadi di Eropa dan benua Amerika. Kebanyakan wabah tersebut terbatas secara geografis pada daerah tertentu, dengan hanya lima kejadian yang menyebar ke sejumlah peternakan, dan hanya satu yang dikpaorkan menyebar secara internasional. Tidak satupun dari wabah-wabah tersebut yang mendekati ukuran wabah H5N1 di asia yang terjadi di tahun 2004 (WHO 2004/03/02).

Penyakit flu burung pada unggas di konfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi. Di Indonesia pada bulan Januari 2004 di laporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat). Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh karena virus new castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung (Avian influenza (AI)). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor). Pada bulan Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga orang nyawa warga Tangerang Banten, Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong. Sampai hari ini semua wabah dalam bentuk yang sangat patogen disebabkan oleh virus influenza A dari subtipe H5 dan H7.

Manusia

Sampai tanggal 30 Desember 2005, sebanyak 142 kasus infeksi influensa unggas pada manusia telah dilaporkan dari berbagai wilayah. Pada saat itu penularan pada manusia masih terbatas di Kamboja, Indonesia, Thailand, dengan episenter di Vietnam (65,5% dari seluruh kasus), Sebanyak 72 orang (50,7%) telah meninggal. Jumlah tersebut kini sudah bertambah lagi terutama dengan meluasnya penyebaran dan bertambahnya kematian di Indonesia. Juga dari beberapa negara lain (Turki,Irak) sudah ada laporan tentang kasus influensa unggas ini pada manusia.

2.7  PENCEGAHAN, PENGENDALIAN DAN PEMBERANTASAN

Prinsip dasar yang diterapkan dalam pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan Avian influenza atau flu burung ini, adalah:

  • Mencegah kontak antara hewan peka dengan virus AI
  • Menghentikan produksi virus AI oleh unggas tertular (menghilangkan virus AI dengan dekontaminasi/disinfeksi)
  • Meningkatkan resistensi (pengebalan) dengan vaksinasi
  • Menghilangkan sumber penularan virus, dan
  • Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)
  • Menjauhkan unggas dari pemukiman manusia untuk mengurangi kontak penyebaran virus
  • Segera memusnahkan unggas yang mati mendadak dan unggas yang jatuh sakit utnuk memutus rantai penularan flu burung, dan jangan lupa untuk mencuci tangan setelahnya.
  • Laporkan kejadian flu burung ke Pos Komando Pengendalian Flu Burung di nomor 021-4257125 atau dinas peternakan-perikanan dan dinas kesehatan daerah tempat tinggal anda.

Dalam pelaksanaannya, dapat dilakukan melalui  9  tindakan yang merupakan satu kesatuan satu sama lainnya yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:

  1. Peningkatan biosekuriti
  2. Vaksinasi
  3. Depopulasi (pemusnahan terbatas atau selektif) di daerah tertular
  4. Pengendalian lalu lintas keluar masuk unggas
  5. Surveillans dan penelusuran (tracking back)
  6. Pengisian kandang kembali (restocking)
  7. Stamping out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru
  8. Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)
  9. Monitoring dan evaluasi

Yang harus dilakukan untuk melindungi peternakan pada saat tidak terjadi wabah AI :

  • Menjaga agar ternak unggas dalam kondisi baik, antara lain, mempunyai akses ke air bersih dan makanan yang memadai, kandang yang memadai, menerima produk-produk yang bebas cacing dan sudah divaksinasi
  • Menjaga ternak agar selalu berada di lingkungan yang terlindung
  • Memeriksa barang-barang yang masuk ke dalam peternakan
  • Melaksanakan biosecurity yang baik dan tepat

Yng harus dilakukan untuk melindungi peternakan pada saat terjadi wabah AI :

  • Memelihara ternak di tempat yang terlindungi
  • Tidak membeli atau menerima hewan baru ke dalam peternakan
  • Membatasi dan mengendalikan orang yang masuk ke peternakan
  • Membersihkan pekarangan, membersihkan kandang, peralatan, sepeda motor (alat transportasi) secara berkala
  • Manajemen litter/kotoran ayam yang baik.

Diperlukan kontrol yang ketat dan tindakan pencegahan penyakit untuk menekan kejadian penyakit AI dan penularan AI ke manusia. Kontrol dan tindakan pencegahan yang penting dilakukan secara rinci dijelaskan di bawah ini.

1)        Sanitasi

Menghindari kontak dengan ternak penderita dan bahan-bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas serta reservoir virus, dengan beberapa langkah, yaitu alat-alat yang digunakan dalam peternakan dibersihkan, dicuci dengan deterjen dan didesinfeksi. Di lingkungan kandang peternakan, desinfektan yang bisa digunakan berupa campuran Kalium Permanganat (KMnO4), dengan formalin. Hal ini dilakukan pada kandang yang tertutup rapat, dengan cara mencampur 7 gram KMnO4 dengan 14 ml formalin untuk tiap 1 meter kubik kandang. Pada saat desinfeksi, suhu ruangan harus tidak lebih dari 15 derajat Celcius, kelembaban relative 60 sampai dengan 80 persen. Bejana diisi lebih dahulu dengan KMnO4, ditambah larutan formalin, pintu dan ventilasi ditutup rapat selama 7 jam, sehingga desinfeksi akan sempurna. Setelah selesai, pintu dan ventilasi kembali dibuka agar udara segar masuk dan menghilangkan bau tak sedap. Kaporit 5% juga sering digunakan untuk menyemprot kandang dan kerangka sarang, tempat pakan dan kendaraaan. Untuk sterilisasi alat-alat dan meja kerja di pabrik pakan, RPH dan pengolahan daging sering digunakan sodium hipoklorida (NaOCl) yang dengan cepat membunuh virus dan tidak menimbulkan residu atau bau tidak sedap. Cairan soda kostik 94% yang dicampur air dan dipanaskan menjadi larutan 1% sampai 2% digunakan untuk mencuci hamakan lantai, dinding kandang, RPA, pabrik pengolahan pakan, kendaraan. Setelah 6 -12 jam obat disemprotkan, dibersihkan dengan air bersih. Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan dsn setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran pencernaan unggas harus menggunakan pelindung berupa masker dan kacamata renang. Mengkonsumsi daging dan telur yang dimasak sampai matang sempurna. Virus AI peka terhadap panas, pada suhu 70 derajat Celsius mati selama 2 sampai dengan 10 menit. Tidak perlu panik, daging unggas, telur dan produk olahan yang sudah matang serta dijual dipasar boleh dikonsumsi. Melaksanakan kebersihan lingkungan dan kebersihan diri dengan cara mandi setelah bekerja bagi kelompok rawan.

Pembatasan import ayam dari negara-negara wabah, seperti Thailand, Hongkong dan Vietnam dan dilakukan pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi. Meningkatkan pemantauan epidemik terhadap burung migran guna menemukan sumber asal wabah flu burung, seperti beberapa pulau : Pulau Rakit Utara, Gosong dan rakit Selatan atau Pulau Biawak yang menjadi tempat persinggahan burung dari Australia dan Eropa. Di pulaupulau tersebut jutaan ekor burung tinggal dalam waktu cukup lama, 2 – 2,5 bulan, kawin dan berproduksi, menetaskan telur.

2. Vaksinasi

Vaksin unggas yang dibuat harus cocok dengan virus yang akan mewabah, karena vaksin untuk infeksi sub tipe virus tertentu tidak efektif digunakan sebagai vaksin untuk infeksi sub tipe virus lain. Oleh karena virus influenza mudah berubah sifat, maka sangat penting upaya bisa memprediksi virus yang akan mewabah guna pembuatan vaksin. Hal ini tentunya diperlukan tenaga ahli di bidang epidemiologi dan juga peralatan laboratorium yang memadai. Unggas yang sehat yang berada sekitar 5 kilometer sekitar daerah wabah harus divaksinasi darurat. Pada manusia, orang yang beresiko mendapat flu burung harus mendapatkan pencegahan dengan oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 1 minggu. Meskipun vaksinasi yang digunakan tidak efektif terhadap virus H5N1, namun akan mengurangi resiko penyusunan ulang nateri genetik dari virus influenza manusia dan burung di tubuh manusia, dengan kata lain akan mencegah pembentukan tipe baru virus influenza yang lebih ganas.

Tujuan Vaksinasi

Dalam dunia kedokteran hewan, vaksinasi ditujukan untuk mencapai empat sasaran:

a)         perlindungan terhadap timbulnya penyakit secara klinis,

b)        perlindunganterhadap serangan virus yang virulen,

c)         perlindungan terhadap ekskresi virus,

d)        pembedaan secara serologik antara hewan yang terinfeksi dari hewan yang divaksinasi (dikenal sebagai differentiation of infected from vaccinated animals,atau prinsip DIVA).

Kelompok individu yang dianjurkan vaksinasi menurut WHO adalah :

a)      Semua orang yang kontak dengan ternak atau peternakan yang dicurigai atau diketahui terkena virus AI (H5N1), khususnya orang yang melakukan kontak dengan hewan/ternak yang terjangkit/mati akibat AI, orang-orang yang tinggal dan bekerja pada peternakan dimana dilaporkan atau dicurigai terkena AI atau di tempat pemusnahan ternak penderita.

b)      Para pekerja kesehatan yang setiap hari berhubungan dengan pasien yang diketahui atau dicurigai menderita H5N1 (c) jika jumlah vaksin memadai, maka para pekerja kesehatan dalam unit gawat darurat di area terjangkit H5N1 pada unggas bisa diberikan.

3. Eliminasi

Eliminasi penyakit dilakukan dengan upaya karantina, pemotongan dan pemusnahan, dekontaminasi, desinfeksi, yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di Tiongkok, semua unggas dalam radius 3 kilometer di sekitar daerah wabah harus dimusnahkan guna memberantas flu burung yang berbahaya.

4. Isolasi

Tindakan isolasi dilakukan dengan mencegah penularan dari flok unggas yang terinfeksi ke flok lain, membatasi lalu lintas orang dan barang dari dan ke peternakan yang terinfeksi guna mencegah penularan penyakit ke peternakan dan wilayah lain.

5. Biosekuritas

Biosekuritas merupakan hal yang utama dalam kontrol dan pencegahan penyakit AI.

Pencegahan penularan virus H5N1 dari unggas ke manusia :

Dibagi dalam 2 kelompok :

1.    Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang):

–       Menggunakan pelindung (Masker, kacamata renang, sarung tangan) setiap berhubungan dnegan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas

–          Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.

–          Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung.

–          Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).

–          Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja..

–          Membersihkan kotoran unggas setiap hari.

–          Imunisasi.

  1. Masyarakat umum:

–          Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.

–          Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :

a)      Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)

b)      Memasak daging ayam sampai dengan suhu 80 °C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ?64°C selama 4,5 menit.

–       Basuh tangan sesering mungkin, peternak sebaiknya juga melakukan disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau larutan pemutih / khlorin 0,5% untuk alat2 / instrumen)

–       Melakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang terpajan dan keluarganya.

–       Memperhatikan keluhan-keluhan seperti Flu, radang mata, keluhan pernafasan.

2.8 PENGOBATAN

Pada burung, pengobatan tidak efektif. Upaya pemberian antibiotik dan multivitamin bisa dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Penggunaan interferon amantadin pada kasus influenza pada puyuh dan kalkun di Italia berhasil menurunkan angka kematian hingga 50 persen.

Pada manusia pengobatan bisa dilakukan dengan dua kelompok obat anti virus, yaitu :

a)      Kelompok “ion channel blocker”, yang bersifat memblokir aktivitas ion channel dari virus influenza tipe A, sehingga aliran ion hidrogen diblokir dan virus gagal melakukan perkembangbiakan. Termasuk dalam kelompok ini adalah : amantadine dan rimantadine

b)      Neuraminidase inhibitor, yang menghambat virus masuk ke dalam sel dan teragregasi di permuakaan sel saja dan tidak bisa pindah ke sel lain. Pemberian amantadine adalah 48 jam pertama selama 3 – 5 hari, dengan dosis 5 mg/kg BB per hari dibagi dalam 2 dosis, Apabila berat badannya lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Penyakit flu burung (Bird Flu, Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.

Wabah penyakit flu burung ini menimbulkan kerugian besar terhadap industri ternak unggas dalam skala lintas benua. Resiko paparan pada manusia secara langsung berhubungan dengan meningkatnya kehadiran virus yang berpotensi menular dari hewan ke manusia.

Indonesia merupaka salah satu negara pandemic flu burung, oleh karena itu upaya pencegahan, pengendalian, pengobatan dan pemberantasan dengan cara yang tepat sangat diperlukan dalam rangka perlindungan terhadap hewan dan manusia serta meminimalisir kerugian ekonomi akibat penyakit ini.

3.2 SARAN

Kompleksitas dan potensi dampak dari penularaan zooanthroponotic (dari hewan ke manusia ) virus HPAI H5N1 yang semi-pandemik di kalangan unggas, memerlukan tindakan rasional dan kerjasama antara ilmuwan, poltikus, dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Alexander DJ. A review of avian influenza in different bird species. Vet Microbiol 2000; 74:

3-13 Abstract: http://amedeo.com/lit.php?id=10799774

Allan WH, Alexander DJ, Pomeroy BS, Parsons G. Use of virulence index tests for avian influenza virusses. Avian Dis 1977; 21: 359-63. Abstract: http://amedeo.com/lit.php?id=907578

Amonsin A, Payungporn S, Theamboonlers A, et al. Genetic characterization of H5N1 influenza A viruses isolated from zoo tigers in Thailand. Virology 2005; Sep 26; [Epub ahead of print] Abstract: http://amedeo.com/lit.php?id=16194557

Avian Influenza: Bird Flu. http://www.cdc.gov/flu/avian/

Global spread of H5N1. http://en.wikipedia.org/wiki/Global_spread_of_H5N1

Monterey Bay’s Pandemic Flu Watch. http://cns.miis.edu/flu_watch/images/090506_ avian_flu_human_cases.png

Pengendalian Infeksi pada Perawatan Flu Burung. http://www.infeksi.com

Seputar Penanggulangan Pandemi Flu baru H1N1 Oleh Departemen Kesehatan RI.

http://www.depkes.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s