AGEN EM4 PETERNAKAN PERIKANAN PERTANIAN

Produk EM4 merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan untuk prtumbuhan dan produksi ternak dengan ciri-ciri berbau asam manis. EM4 peternakan mampu memperbaiki jasad renik didalam saluran pencernaan

ternak sehingga kesehatan ternak akan meningkat, tidak mudah stres dan bau kotoran akan
berkurang. Pemberian EM4 pada pakan dan air minun ternak akan meningkatkan nafsu makan ternak karena aroma asam manis yang ditimbulkan. EM4 peternakan tidak mengandung bahan kimiawi, sehingga aman bagi ternak.
Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

P_20160606_145548

Manfaat:
Dapat digunakan untuk ternak ayam, bebek, burung dll
– Menyeimbangkan mikroorganisme yang menguntungkan dalam perut ternak
– Memperbaiki kesehatan ternak
– Menurunkan kadar gas amonia pada kotoran ternak
– Mencegah bau tidak sedap pada kandang dan kotoran ternak
– Mengurangi jumlah lalat dan serangga ternak
Cara Pemakaian:
– Air Minum Ternak
Larutkan EM4 untuk peternakan ke dalam air (1cc/1 liter air). Larutan ini kemudian dicampurkan ke dalam air minum ternak. Dapat diberikan setiap hari.
– Pakan Ternak
Larutkan EM4 untuk peternakan ke dalam air (1cc/1 liter air). Larutan ini kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak dan selanjutnya diberikan pada ternak.
– Mencegah bau pada kotoran/kandang:
Larutkan EM4 untuk peternakan dan molas ke dalam air dengan perbandingan 1 : 1 : 100. Larutan ini kemudian disimpan di tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari dan selanjutnya dapat digunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 1-10cc larutan dalam 1 liter air.
CARA PEMBUATAN JERAMI FERMENTASI DENGAN EM4

Untuk membuat jerami fermentasi (untuk 1 ton jerami) alat-alat yang dibutuhkan itu, cangkul bergigi, ember/tong kapasitas 50 liter, gayung, terpal,  dan sprayer. Sedang bahan-bahannya dedak padi halus 20 kg, EM 4 ternak 2 liter, molasses (tetes tebu) 2 liter dan air sumur. Tahapannya sebagai berikut :

  1. Dicampurkan EM4 2 liter + molases 5 liter ke dalam air sumur sejumlah 50 liter. Lalu tutup dan diamkan campuran tersebut selama 24 jam campuran tersebut siap digunakan ditandai dengan timbulnya jamur putih pada bagian atas permukaan air.
  2. Di hamparkan jerami ditempat teduh dan kering setinggi 30 cm, sedikit demi sedikit, taburkan dedak secara merata pada permukaan jerami.
  3. Semprotkan larutan EM4 secara merata higga kadar air dalam jerami mencapai 30 %. Bila telah merata, hamparkan kembali jerami hingga setinggi 30 cm, ulangi perlakuan sampai tinggi maksimal 1,5 meter. Bila tinggi tumpukan mencapai 1,5 meter, tutup rapat-rapat jerami dengan terpal.
  4. Di lakukan pemantauan suhu fermentasi (suhu gundukan maksimum 50º  c) Bila suhunya lebih 50º C, maka terpal dibuka dan diamkan selama 30 menit. Bila suhu terlalu panas maka tumpukan sebaiknya dibongakar.
  5. Dalam waktu 21 hari jerami telah mengalami proses fermentasi yang ditandai dengan tumbuhnya jamur putih dipermukaan jerami. Bongkar dan angin-anginkan gundukan jerami sebelum disimpan ditempat teduh dan kering. Berikan jerami yang telah diangin-anginkan pada ternak 10% BB.

Melayani pesanan EM4, Harga Grosir. ongkos kirim ditanggung pembeli siap kirim ke berbagai kota yg berminat silahkan hubungi kami. HP : 085693580650

AGEN SEKARBIO (manfaat dan fungsi sama dengan STARBIO)

Sekarbio merupakan hasil teknologi tinggi yang berisi koloni mikroba rumen sapi yang diisolasi dari alam untuk membantu penguraian struktur jaringan pakan yang sulit terurai. Adapun koloni-koloni mikroba tersebut terdiri dari mikroba yang bersifat proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan yang bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik

dengan kata lain, sekarbio adalah feed suplemen yang berfungsi membantu meningkatkan daya cerna pakan dalam lambung ternak. Sekarbio ini terdiri dari koloni mikrobe 9 ( bakteri fakultatif ) yang berasal dari lambung ternak ruminansia dan dikemas dalam campuran tanah dan akar rumput serta daun-daun yang telah membusuk.

P_20160609_060236P_20160609_060253

Jpeg

Jpeg

Manfaat :

1. lebih banyak zat nutrisi yang dapat diurai dan diserap (meningkatkan daya
cerna pakan)
2. kotoran tidak berbau
3. dengan pakan yang sama akan dihasilkan produksi lebih banyak
4. kualitas produksi akan meningkat
5. Kumpulan mikroba yg terdapat dalam starbio akan membantu pencernaan pakan dalam tubuh ternak,membantu penyerapan pakan lebih banyak sehingga pertumbuhan ternak lebih cepat dan produksi dapat meningkat.Hasilnya , FCR ( feed convertion ratio ) atau konversi pakan akan menurun sehingga biaya pakan menjadi lebih murah

CARA MEMBUAT

Bahan : sekarbio 6 kg , Pupuk Urea 6 kg , Jerami 1 Ton ( jerami 1 Ton sekitar 3 – 4  mobil pick up penuh ). Proses Starbio Ternak digunakan proses fermentasi jerami

  1. Jerami ditumpuk setinggi sekitar 30 cm kemudian taburkan sekarbio dan urea ( fungsi urea sebagai makanan probiotik sekarbio )
  2. lalu diperciki dengan air hingga kadar air mencapai 60% (jerami terlihat cukup basah tetapi tidak mengeluarkan air ketika diperas),
  3. Ulangi lagi setiap 30cm pada lapis berikutnya
  4. Proses fermentasi berlangsung selama 21 hari / 3 minggu.
  5. Setelah 21 hari, jerami segera dibongkar untuk dikeringkan / di angin anginkan sebagai stok pakan atau bisa langsung diberikan pada ternak. ( Setelah 21 hari warna jerami berubah menjadi coklat tua dan berbau seperti karamel )

(proses fermentasi yang melebihi 28 hari akan merubah jerami menjadi kompos).

Cara Meransum Komboran Sapi

Kebanyakan peternak sapi mengabaikan makanan tambahan,seperti komboran misalnya. Komboran sangat penting di berikan pada sapi,karena banyak kandungan Nutrisi yang terdapat di dalamnya,itu tentunya di dukung dengan bahan dan cara pembuatannya. Jarang peternak sapi memperhatikan hal tersebut,maka dari itu saya akan memberikan cara bagaimana meransum komboran untuk sapi.

Siapkan ember besar,air sumur,dedak halus ¨katul¨,garam dan starbio.Sekarbio selain mengandung nutrisi yang cukup tinggi juga menambah nafsu makan pada sapi. Tapi yang lebih unik adalah berpengaruh pada kotorannya,setelah di kasih Sekarbio kotoran sapi jadi tidak terlalu bau,tidak seperti kotoran sapi biasa.

Setelah ember besar,air sumur,dedak halus ¨katul¨,garam,dan starbio sudah tersiapkan semua,kita mulai langkah awal. Pertama siapkan ember besar lalu dedak halus ¨katul¨ di masukan,ukuran 25 liter ari,membutuhkan dedak halus ¨katul¨ 1 kg. Setelah dedak di masukan lalu garam,kurang lebih 2 sendok makan. Sesudah itu lalu Sekarbio di masukan,ukurannya 2 sendok makan. Setelah dedak,garam,dan Sekarbio di masukan kedalam ember besar baru di larutkan dengan air sumur yang sudah di sediakan. Aduk sampai rata dan siap di berikan pada sapi.Pemberian komboran pada sapi sebaiknya 1 hari 2kali,yaitu pagi dan sore.

sumber : http://ternaksapimetal.blogspot.co.id/2013/07/starbio-untuk-sapi-dan-starbio-untuk.html

Melayani pesanan Sekarbio, Harga Grosir. ongkos kirim ditanggung pembeli siap kirim ke berbagai kota yg berminat silahkan hubungi kami. HP : 0856-9358-0650

MAKALAH PBL PATOLOGI SITEMIK DAN NEKROPSI

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan  dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Usaha peternakan di Indonesia sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala, yang mengakibatkan produktivitas ternak masih rendah.Salah satu kendala tersebut adalah masih banyaknya gangguan reproduksi menuju kemajiran pada ternak betina. Akibatnya, efisiensi reproduksi akan menjadi rendah dan kelambanan perkembangan populasi ternak. Dengan demikian perlu adanya pengelolaan ternak yang baik agar daya tahan reproduksi meningkat sehingga menghasilkan efisiensi reproduksi tinggi yang diikuti dengan produktivitas ternak yang tinggi pula (Hayati dan Choliq, 2009).

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi dan produksi ternak. Peternakan ruminansia yang ada di Indonesia masih merupakan jenis peternakan rakyat, berskala kecil, dan masih merujuk pada sistem pemeliharaan konvensional. Masih banyak permasalahan yang timbul dalam peternakan seperti permasalahan pakan dan kesehatan, khususnya gangguan reproduksi. Gangguan reproduksi berdampak pada rendahnya fertilitas induk, sehingga angka kebuntingan dan kelahiran pedet menurun atau dengan kata lain efisiensi reproduksi menurun. Akibat dari semua itu adalah lambatnya pertambahan populasi ternak dan produksi susu nasional. Gangguan reproduksi yang umum terjadi pada ternak ruminansia di antaranya adalah retensio sekundinae, distokia, abortus, kelahiran prematur, dan endometritis (Hayati dan Choliq, 2009). Sebagai contoh, kejadian retensio sekundinae dan endometritis adalah 32.95% dan 19.89% dari total kasus reproduksi di KPS Gunung Gede, Jawa Barat pada tahun 2003. Sedangkan abortus terjadi sekitar 2.96% (83 kasus) dari total kasus reproduksi di PT Taurus Dairy Farm, Jawa Barat selama tahun 1995-1999 (Fincher, et al., 1956)

 

 

Retensio sekundinae merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya endometritis, karena dengan adanya infeksi bakteri atau mikroorganisme pada uterus postpartus dapat mengakibatkan peradangan. Lingkungan uterus yang kotor, ditambah dengan penanganan postpartus yang buruk mengakibatkan proses involusi kurang berjalan dengan sempurna. Sehingga pada saat dikawinkan mengakibatkan angka efisiensi reproduksi yang rendah.  Beberapa parameter untuk menilai efisiensi reproduksi antara lain adalah conception rate (CR), service per conception (S/C), dan calving interval (CI) (Hardjopranjoto 1995). CR merupakan angka kebuntingan hasil IB pertama, dan nilai CR yang ideal adalah sekitar 50%. S/C merupakan jumlah inseminasi yang dibutuhkan untuk terjadinya satu kebuntingan, dan nilai S/C yang ideal adalah mendekati 1.0. CI merupakan jarak antara kelahiran ke kelahiran berikutnya, dan nilai CI yang ideal adalah 12 bulan (Hafez, 1980). 

Gangguan reproduksi dan hubungannya dengan penurunan tingkat efisiensi reproduksi yang terjadi perlu dicermati sepanjang musim berkaitan dengan perubahan musim di Indonesia. Hal ini karena musim hujan dengan sanitasi lingkungan yang buruk, penanganan penyakit, dan keadaan ternak yang kurang baik dapat meningkatkan keparahan penyakit. Sedangkan pada musim kemarau dengan kualitas pakan yang buruk. Sehingga ternak kekurangan pakan dalam hal komposisi dan nutrisi, bisa mengakibatkan gangguan reproduksi. Setiap peternakan sebaiknya mempunyai pengelolaan ternak yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti pengelolaan pakan, pengelolaan kandang, dan pengelolaan kesehatan (Bearden and Fuquay, 1992). Oleh karena itu sebagai mahasiswa kedokteran hewan harus mengetahui dan mempelajari mengenai penanganan dan penanggulangan penyakit reporoduksi pada ternak.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan rumusan masalah adalah kelainan reproduksi yang tinggi akan mempengaruhi rendahnya penampilan reproduksi bagi suatu usaha peternakan, sehingga penting untuk dilihat dan diketahui.

            1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelainan/gangguan reproduksi pada ternak sapi perah betina yang terdapat di Kabupaten Sinjai.

            1.4 Manfaat

Manfaat penelitian adalah untuk memperbaiki gangguan kelainan reproduksi dan memperbaiki penampilan reproduksi ternak sapi perah di Kabupaten Sinjai.

 

DOWNER COW SYNDROM

Downer Syndrom atau paraplegia post partum merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada induk hewan yang sedang bunting tua atau beberapa hari sesudah partus yang memyebabkan sapi tidak dapat berdiri, tetapi selalu dalam keadaan berbaring pada salah satu sisi tubuhnya karena adanya kelemahan pada bagian belakang tubuh.

Berberapa faktor yang dapat menjadi penyebab adalah :

  1. Adanya kelemahan badan akibat menerima beban terlalu berat, mis : bunting dengan anak yang terlalu besar, anak kembar, induk yang menderita hidrop allantois
  2. Patah (frakture) tulang femur, sakrum, atau lumbal dan melesatnya (luxatio) pada persendian panggul
  3. Adanya benturan (contusio) pada otot di bagian tubuh sebelah belakang waktu berbaring atau menjatuhkan diri, sehingga ada kerusakan urat daging atau tulang pelvisnya
  4. Adanya osteomalasia karena defisiensi vitamin D (5) pembendungan pembuluh darah pada kaki belakang sehingga menimbulkan gangguan peredaran darah.

Gejala :

  1. Secara tiba-tiba induk hewan yang baru saja melahirkan terlihat jatuh dan tidak dapat berdiri karena adanya kelemahan di bagian belakang badannya, gejala ini bisa terlihat 2-3 hari sebelum partus.
  2. Keadaan umum dari tubuhnya tidak terganggu, sensitivitas urat daging paha masih baik, induk berbaring saja tanpa terlihat gejala-gejala kesakitan.
  3. Induk sering berusaha berdiri, kalau berdiri mencoba berjalan sempoyongan, kaki depan dan leher tetap kuat hanya bagian tubuh sebelah belakang yang lemah.

Diagnosa :

  1. Eksplorasi rektal dengan meraba seluruh bagian rongga pelvis dan tulang pelvis.
  2. Sensibilitas urat daging paha baik ditandai dengan bila ditusuk dengan benda tajam memberikan reaksi.
  3. Beberapa hari kemudian induk sapi akan dapat berdiri dengan sendirinya.

Komplikasi yang mungkin terjadi :

  1. Dekubitus : luka pada kulit dan otot, khususnya pada bagian tulang yang menonjol
  2. Prolapsus vagina : karena tekanan pada waktu berbaring oleh rumen terhadap uterus yang masih kontraksi.
  3. Gangguan pencernaan dan timpani : berkumpulnya udara dalam perut disebabkan berbaring diatas lantai kandang yang dingin dalam waktu yang lama.

Pengobatan :

  1. Pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi
  2. Saraf di kaki belakang dirangsang dengan memberikan vitamin B1 dan B6.
  3. Sebagai treatmen sapi harus sering di balik, minimal tiap 8 jam agar tidak terjadi ganguan sirkulasi darah pada sisi tertentu sehinggga menyebabkan sapi tidak akan mampu berdiri lagi.